Monday, June 11, 2007

Kuramg penerangan

Warga Jakarta ternyata cukup antusias naik angkutan air (waterway) yang baru diluncurkan untuk pariwisata . Pengunjung bahkan rela antre satu jam tiga puluh menit untuk naik ke atas kapal Kerapu yang melintas dari Halimun sampai Karet.

Dermaga Halimun, Sabtu sore (9/6) dipenuhi puluhan warga yang hendak mencoba waterway. Meski tidak sampai memacetkan Jalan Sultan Agung, tempat dermaga Halimun berada, kendaraan yang melintas terpaksa berjalan pelan. Kerumunan warga di dermaga Halimun belum lagi mobil yang parkir di bahu jalan begitu juga motor menyebabkan perjalanan tersendat. Antrean serupa terlihat di dua dermaga lainnya yaitu Dukuh Atas dan Karet.

Untuk naik ke atas kapal Kerapu, pengunjung harus merogoh Rp 1.500 untuk perjalanan satu arah. Sedangkan untuk naik dari Halimun menuju Karet dan kembali ke Halimun biayanya adalah Rp 3 ribu per orang. Petugas Dinas Perhubungan yang menjual tiket kemudian mencatat nama pengunjung. Ketika kapal sudah merapat ke dermaga, hanya penumpang yang sudah tercatat diperbolehkan naik.

Renaldi (12 tahun), warga Pasar Rumput, Sabtu itu datang sendirian ke dermaga. Tempat tinggalnya memang tidak jauh dari dermaga Halimun. Usai menempuh perjalanan selama 30 menit dari Halimun dan kembali lagi ke Halimun, dia mengaku senang. "Tapi bau," katanya.

Siswa kelas 5 SD Menteng Atas itu mengaku baru pertama kali naik kapal. Meski aroma Sungai Ciliwung tidak sedap dan kapalnya tersangkut sampah hingga tiga kali, dia akan kembali menjajal naik waterway. Munawar, warga Kemayoran yang datang menemani putranya Danu, mengatakan meski harus menunggu satu jam tiga puluh menit, pengalaman naik waterway dianggapnya berguna bagi Danu. "Lebih menguntungkan naik ini daripada dengan harga yang sama naik kapal-kapalan di mal yang cuma lima menit," tutur dia.

Kepala UPT Penyeberangan Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Mohammad Zakky, mengatakan dalam setiap masa operasi waterway ditargetkan berjalan sebanyak tiga kali. Khusus masa operasi di sore hari, waterway dapat berjalan sampai empat kali selama matahari masih bercahaya.

Saat gelap, Zakky tidak berani mengambil resiko karena dermaga tidak dilengkapi sarana penerangan. "Kami khawatir penumpang yang sebagian besar anak-anak tergelincir di dermaga saat turun ke kapal karena gelap," papar dia.

Dalam evaluasi operasi waterway Zakky akan meminta pada Dinas Penerangan Jalan Umum untuk menyediakan lampu di dermaga dan sepanjang rute waterway. Sedangkan menyalakan lampu kapal tidak dimungkinkan karena aki kapal bakal terlalu boros. Pemprov DKI memang harus menyubsidi angkutan air murah meriah itu. Normalnya untuk perjalanan bolak-balik dibutuhkan Rp 10 ribu. Namun penumpang waterway hanya membayar Rp 3 ribu. [ind - republika]

0 comments: