Tuesday, June 12, 2007

Tarif Rp.1.500

Pengoperasian perdana transportasi air (waterway) di Banjir Kanal Barat, Sabtu lalu masih saja mengalami sejumlah kendala teknis, seperti sampah yang hanyut, bau tak sedap, dan ketinggian muka air yang di bawah normal. Koordinasi antara Dinas Perhubungan DKI dan Dinas Pekerjaan Umum DKI tampaknya belum optimal.

Pemprov DKI juga perlu mempertimbangkan untuk membangun lokasi parkir yang memadai di sekitar Dermaga Halimun. Pasalnya, selama pengoperasian waterway kemarin, Jalan Sultan Agung menjadi macet akibat kendaraan yang parkir menutup satu lajur jalan tersebut.

Selain itu, memertimbangkan tingginya animo masyarakat menjadikan waterway sebagai sarana wisata kota, Dishub DKI perlu menambah frekuensi operasionalnya, dari dua hari sepekan menjadi tiga atau empat hari. "Kami akan lakukan evaluasi berdasarkan dua hari operasional ini. Semua masukan akan kami bahas. Termasuk soal penambahan frekuensi. Kalau memang bagus, ya mungkin kita tambah harinya," ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penyeberangan Dishub DKI Muhammad Zaki.

Dishub DKI pun harus menyediakan kapal khusus yang spesifikasinya cocok untuk pelayaran sungai, di mana lambung kapal cembung, dan kekuatan mesinnya sedang- sedang saja. Tak seperti yang saat ini digunakan, yang lebih cocok untuk pelayaran laut. "Dua kapal itu memang kapal cadangan dari enam kapal penyeberangan antara pulau di Kepulauan Seribu. Sebenarnya kurang cocok untuk sungai, tapi baru ini yang bisa kita gunakan," ujar Zaki.

Kapal Kerapu III dan Kerapu VI yang melayani rute Halimun-Karet, menggunakan dua mesin dengan kapasitas total 400 PK. Kecepatan maksimal 25 knot. Padahal untuk pelayaran sungai, menurut Zaki, kapal yang dibutuhkan cukup dengan kekuatan 2 x 80 PK karena kecepatan maksimal pelayaran tak lebih dari 3 knot. "Kapal yang sekarang ini lebih boros karena Pknya besar. Kalau disesuaikan dengan biaya operasional kapal ini, setiap penumpang harusnya dikenai tarif Rp 10.000 untuk perjalanan pergi-pulang. Dengan tiket hanya Rp 3.000 PP, berarti setiap penumpang disubsidi Rp 7.000," ujar Zaki.

Tak hanya boros pada operasionalnya saja, tapi juga tak sesuai spesifikasinya. Dengan kondisi badan sungai yang dangkal dan banyak sampah yang kerapkali menyangkut di baling-baling, akan mengakibatkan sejumlah onderdil kapal cepat rusak. "Lihat saja, sebentar lagi laher kapal ini pasti jebol. Sampah yang nyangkut bukan cuma kain atau plastik, tapi juga kayu. Parah banget," ujar seorang crew kapal waterway yang tak ingin disebut namanya.

Nah, kita tunggu bagaimana perkembangan ’mainan baru’ warga Jakarta ini. Moga- moga benar-benar menjadi transportasi alternatif menghadapi kemacetan lalu lintas Ibu Kota, 10 atau 20 tahun lagi. Jangan puas hanya sekadar jadi arena liburan anak-anak. (Ika Chandra Viyatakarti - Wartakota)

Data dan Fakta
Lokasi Dermaga : Halimun, Dukuhatas, dan Karet
Kapasitas kapal : 25 penumpang
Kecepatan : 3 knot
Jarak Tempuh : 1,7 km
Waktu tempuh : 18-20 menit
Hari Operasi : Sabtu dan Minggu
Jam Operasi : Pagi 07.00-09.00, Sore 16.00-18.00
Tarif : Rp 1.500 per penumpang (sekali jalan)
Rp 3.000 per penumpang (pulang pergi)

0 comments: