Thursday, January 3, 2008

Proyek mubazir

Belum genap satu tahun, efektifitas proyek transportasi sungai atau waterway mulai dipertanyakan. Dari minimnya penumpang waterway, penumpukan sampah dan Sungai Ciliwung yang bau, menjadi penghambat bagi pengguna jasa kapal motor (KM) dengan trayek Halimun-Dukuh Atas atau sebaliknya.

Sutrisno, teknisi KM, melaporkan saat ini jumlah pengunjung waterway hanya 2-4 orang per hari. Padahal, kapal bisa beroperasi jika jumlah pengunjung minimal 10 orang, dari kapasitas tempat duduk 28-30 orang. Akibatnya pihaknya tidak bisa mengoperasikan KM karena keterbatasan penumpang

''Sejak Agustus lalu dalam satu bulan, KM ini hanya dioperasikan dua kali,'' ujarnya. Proyek ini resmi dioperasikan 6 Juni 2007 oleh mantan gubernur DKI, Sutiyoso. Usai diresmikan hingga akhir Juli, animo masyarakat masih tinggi. Namun ketika memasuki bulan Agustus yang bersamaan musim kemarau, pengguna transportasi alternatif sekaligus wisata ini mulai menyusut. Banyak penumpang yang kecewa karena kapal tidak beroperasi hanya gara-gara sungai dangkal, atau sering tersangkut tumpukan sampah dan bau tidak sedap.

Melihat fakta di lapangan, Ketua Komisi D (Pembangunan) DPRD DKI, Sayogo Hendrosubroto, meminta pemerintah mengevaluasi proyek ini. Sebab, alat transportasi itu dinilai belum waktunya dibutuhkan masyarakat Jakarta. Jika fokus proyek ini untuk pariwisata, kata Sayogo, pemerintah dinilai belum serius. Sebab, sepanjang sungai Ciliwung tidak tersedia wahana wisata yang bisa menjadi pemandangan menarik bagi para wisatawan.

Begitu juga jika untuk transportasi alternatif. Mengapa hanya dioperasikan pada Sabtu dan Ahad ketika orang tidak bekerja. ''Ini proyek mubazir,'' katanya. Sayogo khawatir, anggaran pemerintah untuk pengoperasian ini akan terus membengkak, sementara animo masyarakat justru menurun.

Jika pemerintah ingin tetap melanjutkan proyek ini, Sayogo mengusulkan justru dioperasikan di sepanjang Teluk Jakarta, dengan rute pemberangkatan dari Dermaga Muara Angke. Atau di lokasi sepanjang sungai proyek Banjir Kanal Barat (BKB). Tapi jika tetap beroperasi di Sungai Ciliwung, pilihannya harus menambah rute dari Dukuh Atas hingga Manggarai-Karet. ''Sebab disitu kan kawasan pada penduduk, dan mereka pasti akan memanfaatkan transportasi ini untuk aktivitas sehari-hari atau sekadar liburan. Kalau rute sekarang susah dari permukiman dan sulit dijangkau,'' katanya.

Kepala UPT Pelabuhan dan Penyeberangan Dishub, Muhammad Zaky, mengatakan Dishub hanya mengeluarkan biaya premium sebanyak 20 liter. Jadi perhitungannya 20 liter dikalikan jumlah rate lalu dikalikan lagi Rp 4.500. ''Itu anggaran yang kami sediakan,'' katanya. Faktanya, jumlah rate dari waktu ke waktu terus menurun.

Namun Dishub DKI tampaknya tetap ngontot untuk meneruskan transportasi sungai ini meski mengurangi armada dari dua menjadi satu unit. Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI, Nurachman, satu KM akan menjalani perbaikan di dok (galangan kapal) Marina Ancol, yakni KM Kerapu VI. Usai perbaikan selama sepekan, KM ini akan kembali beroperasi. Sedang satu KM lain yaitu KM Kerapu III akan dikembalikan ke Dermaga Muara Angke, untuk menambah armada tujuan Muara Angke Jakut-Kepulauan Seribu.

''Satu kapal akan masuk dock (galangan kapal) karena sudah memasuki masa perbaikan. Sedang satu kapal digunakan untuk menambah armada antara Muara Angke Jakarta Utara-Kepulauan Seribu,'' ujar Nurachman. Dishub memastikan pada Januari 2008, Dermaga Muara Angke sudah mulai dioperasikan. zak-republika

0 comments: