Monday, April 14, 2008

13 sungai akan dikeruk

Pemprov DKI dan pemerintah pusat sepakat akan melakukan normalisasi dan pengerukan 13 sungai di Jakarta  sebagai upaya untuk mengantisipasi banjir yang kerap mengancam Ibukota. 

Demikian dikatakan Wakil Gubernur DKI DKI Jakarta, Prijanto, saat meninjau normalisasi Kali Mookervart dan menyalurkan 100 unit alat biopori dan 5.000 pohon yang disumbangkan sejumlah perusahaan di kawasan Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu (12/4).

"Pemerintah pusat dengan daerah sudah sepakat untuk mengeruk 13 sungai besar yang ada di Jakarta," katanya. "Dalam waktu dekat akan ada bincang-bincang untuk melaksanakan pengerukan kali," ujarnya.

Mantan Aster KASAD itu mengungkapkan untuk melakukan normalisasi dan pengerukan 13 sungai besar di Jakarta itu membutuhkan biaya yang sangat besar. Proyek tersebut dibiayai pinjaman lunak Bank Dunia.

“Proses administrasi pinjaman dari Bank Dunia akan diselesaikan tahun ini. US$ 150 juta merupakan pinjaman lunak ditambah bantuan hibah US$ 10 juta. 

Rencananya, kata Prijanto, pengerukan 13 sungai pengendali banjir yang telah mengalami kedangkalan itu baru akan dimulai pada tahun 2009. Tahun 2008 ini akan diselesaikan administrasinya. Proyek tersebut terbagi ke dalam beberapa program hingga tahun 2012. Tahun 2009 dilakukan pengerukan, rehabilitasi tanggul, dan perbaikan pompa-pompa sekaligus pembangunan lokasi pembuangan lumpur. Rencananya selesai tahun 2010 sehingga waktu dua tahun digunakan untuk pemeliharaan dan peningkaran kapasitas sumber daya manusia dalam penanggulangan banjir di Jakarta.

Sebenarnya, ungkap Prijanto, Pemprov DKI telah dan sedang melakukan program normalisasi sungai untuk mengantisipasi bencana banjir. Namun Pemprov DKI Jakarta menemukan kendala keterbatasan anggaran karena luasnya sungai sehingga tidak bisa seluruhnya dikeruk. "Pemda punya anggaran pengerukan sungai, tapi terbatas karena luasnya sungai yang akan dikeruk dan dilebarkan," pungkasnya.

Untuk mengantisipasi banjir dan kekeringan, Pemprov DKI Jakarta juga tengah melakukan program lubang biopori yang dapat menyerap air ke permukaan tanah. "Tujuannya untuk mengisi air tanah agar tanah tidak terjadi penurunan turun," katanya. "Jika air tanah terus kita sedot tanpa ada penyerapan kembali maka dalam 20 tahun bisa terjadi penurunan tanah hinggal satu meter," katanya.

Pendangkalan dan tumpukan sampah yang mengakibatkan tidak lancarnya aliran sungai disebabkan kurangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat sendiri. Kali Mookervart misalnya,  yang pada awalnya memiliki luas 70 meter kini mengalami penyempitan hingga yang tersisa sekitar 20 meter.

Di Manggarai juga, lanjut dia, tumpukan sampah menjadi pemandangan sehari-hari. "Kesadaran masyarakat masih sangat rendah. Mereka menganggap sungai itu adalah tempat pembuangan sampah," ungkapnya.

Prijanto didampingi Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Jakarta Barat dan sejumlah pejabat teras Pemkot Jakbar menyempatkan diri meninjau Kali Mookervart yang sudah dinormalisasi hasih bantuan dari sejumlah perusahaan sepanjang sekitar 2 kilometer.

H Amanah, warga Rt 002/01 Kelurahan Semanan mengungkapkan normalisasi Kali Moukervart yang sudah dilakukan baru bisa dirasakan oleh sejumlah perusahaan saja, sementara warga di sekelilingnya masih diselimuti rasa ketakutan saat hujan turun. "Sekarang ini baru perusahaan saja yang merasakan, tapi kami bersama ribuan warga di sekelilingnya masih dihantui bencana banjir," tuturnya.

Ia berharap, kepada Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat segera melanjutkan program normalisasi kali Mookervart hingga ke Cengkareng Drain. Jika itu sudah dilakukan, kata dia, banjir di wilayah Semanan baru bisa ditanggulangi, atau paling tidak bisa diminimalisir. "Kalau tidak dilanjutkan hingga ke Cengkareng Drain, program ini tidak bisa dirasakan warga, karena hanya menjadi waduk dan air akan mengalir ke daerah yang lebih rendah," ungkapnya.[beritajakarta]

Read More...

Monday, January 14, 2008

Angkutan tak bermanfaat?

Apa Kabar Waterway?

AKIBAT hujan deras yang melanda Ibukota, beberapa waktu lalu mengakibatkan peningkatan debit air di aliran Sungai Ciliwung yang melintas dari Pintu Air Manggarai hingga Pintu Air Karet Tanah Abang, di Jakarta Pusat. Selain hujan, ternyata debit air yang deras juga akibat kiriman dari daerah, khususnya dari Bendung Katulampa, Bogor.

Sudah hampir tiga pekan, dua kapal angkutan sungai (waterway) tidak beroperasi alias hanya \'nongkrong\' di Dermaga Halimun, Jaksel. Kapal Kerapu III dan VI ini tidak dapat beroperasi karena tingginya debit air di Kali Banjir Kanal Barat (BKB) tersebut.

Menurut Manaf, petugas yang berjaga di Dermaga Halimun, biasanya setiap Sabtu dan Minggu kapal dioperasikan untuk mengantarkan pengunjung yang ingin naik perahu. Namun pekan lalu kapal tidak beroperasi karena tingginya debit air. Ketinggian air di Kali BKB mencapai 60 Cm di atas normal, ditambah arusnya juga deras; sehingga menyulitkan kapal untuk dioperasikan, kata Manaf, pekan lalu. Tangga penghubung antara dermaga dengan kapal juga tenggelam, akibatnya petugas memutuskan untuk tidak mempergunakannya lantaran licin dan dikhawatirkan menyebabkan kecelakaan.

Warga menilai angkutan sungai tersebut dinilai tidak bermanfaat karena sungai kotor dan bau. Lebih banyak repotnya, tidak ada air tidak bisa beroperasi, tapi air banyak dan air naik juga tidak bisa beroperasi, ujarnya.

Penuh harapan

ANGKUTAN umum air yang pengoperasiannya dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso --pada saat itu-- diharapkan dapat memenuhi kebutuhan angkutan umum alternatif yang murah dan bebas dari kemacetan. Peresmian beroperasinya waterway, yang merupakan salah satu moda transportasi makro di Jakarta itu dilakukan di Dermaga Halimun, Manggarai, Jakarta Selatan.

Hari ini yang saya resmikan adalah cikal bakal angkutan air, yang merupakan salah satu contoh kepada masyarakat bahwa ada alternatif transportasi lain selain busway dan monorail yang segera dibangun, kata Sutiyoso saat itu. Setelah memberikan sambutan, dia bersama rombongan menaiki Kapal Kerapu III menuju ke Dermaga Karet, kemudian ke Dermaga Dukuh Atas.

Perjalanan itu memakan waktu sekitar 15 menit. Meskipun tidak ada kendala, namun selama perjalanan tersebut masih terlihat sampah di aliran Sungai Kanal Banjir Barat (KBB), bahkan ada sofa yang tampak mengapung. Menurut petugas dari DPU DKI Suparman, akibat volume sampah yang cukup besar, jaring plastik untuk menahan sampah yang dipasang di depan Pintu Air Manggarai menuju aliran KBB rusak.

Sesudah diresmikan, masyarakat bisa menikmati moda transportasi air ini dengan membayar tiket Rp1.500/orang sekali jalan. Untuk tahap awal, telah disiapkan dua kapal dengan kapasitas masing-masing 20-25 orang, yang akan beroperasi setiap Sabtu dan Minggu, mulai pukul 07.00-09.00 WIB, dan pukul 16.00-18.00 WIB.

Kalau animo masyarakat terus meningkat, kami akan menambah jam dan hari beroperasinya waterway. Tapi untuk saat ini, kami hanya ingin mencontohkan ada transportasi baru bagi masyarakat Jakarta, jelas Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono. Tahun ini, paparnya, proyek waterway akan dilanjutkan sampai Manggarai. DPU akan melanjutkan pengerukan KKB selepas Halimun menuju Manggarai, sehingga pengoperasian waterway akan melalui empat titik perhentian, yakni Manggarai, Halimun, Dukuh Atas, dan Karet.

Kepala DPU DKI Wishnu Subagyo menambahkan, proyek waterway berpotensi dilanjutkan sampai ke Muara Angke. Lintasan baru yang dapat diuji coba, adalah dari Jembatan Pesing sampai Muara Angke. Saat ini, DPU tengah meninggikan Jembatan Genit dan Jembatan Teluk Gong di Jakarta Utara.

Waterway merupakan salah satu alternatif angkutan yang dirancang Pemprov DKI dalam pola transportasi makro. Nantinya, waterway yang dioperasikan mulai Manggarai sampai Muara Angke itu akan terintegrasi dengan moda transportasi lainnya, seperti bus jalur khusus (busway). (PELITA - tb tontowy)

Read More...

Tuesday, January 8, 2008

Tidak ada dana?

Salah satu dari 19 program 100 hari Fauzi Bowo yang tidak terlaksana adalah penataan dan pengelolaan sarana transportasi air (waterway).
"Yang satu itu memang tidak terlaksana. Saya rasa kendalanya karena dananya yang tidak ada," kata Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Sayogo Hendrosubroto kepada Media Indonesia, Senin (7/1).

Read More...

Thursday, January 3, 2008

Proyek mubazir

Belum genap satu tahun, efektifitas proyek transportasi sungai atau waterway mulai dipertanyakan. Dari minimnya penumpang waterway, penumpukan sampah dan Sungai Ciliwung yang bau, menjadi penghambat bagi pengguna jasa kapal motor (KM) dengan trayek Halimun-Dukuh Atas atau sebaliknya.

Sutrisno, teknisi KM, melaporkan saat ini jumlah pengunjung waterway hanya 2-4 orang per hari. Padahal, kapal bisa beroperasi jika jumlah pengunjung minimal 10 orang, dari kapasitas tempat duduk 28-30 orang. Akibatnya pihaknya tidak bisa mengoperasikan KM karena keterbatasan penumpang

''Sejak Agustus lalu dalam satu bulan, KM ini hanya dioperasikan dua kali,'' ujarnya. Proyek ini resmi dioperasikan 6 Juni 2007 oleh mantan gubernur DKI, Sutiyoso. Usai diresmikan hingga akhir Juli, animo masyarakat masih tinggi. Namun ketika memasuki bulan Agustus yang bersamaan musim kemarau, pengguna transportasi alternatif sekaligus wisata ini mulai menyusut. Banyak penumpang yang kecewa karena kapal tidak beroperasi hanya gara-gara sungai dangkal, atau sering tersangkut tumpukan sampah dan bau tidak sedap.

Melihat fakta di lapangan, Ketua Komisi D (Pembangunan) DPRD DKI, Sayogo Hendrosubroto, meminta pemerintah mengevaluasi proyek ini. Sebab, alat transportasi itu dinilai belum waktunya dibutuhkan masyarakat Jakarta. Jika fokus proyek ini untuk pariwisata, kata Sayogo, pemerintah dinilai belum serius. Sebab, sepanjang sungai Ciliwung tidak tersedia wahana wisata yang bisa menjadi pemandangan menarik bagi para wisatawan.

Begitu juga jika untuk transportasi alternatif. Mengapa hanya dioperasikan pada Sabtu dan Ahad ketika orang tidak bekerja. ''Ini proyek mubazir,'' katanya. Sayogo khawatir, anggaran pemerintah untuk pengoperasian ini akan terus membengkak, sementara animo masyarakat justru menurun.

Jika pemerintah ingin tetap melanjutkan proyek ini, Sayogo mengusulkan justru dioperasikan di sepanjang Teluk Jakarta, dengan rute pemberangkatan dari Dermaga Muara Angke. Atau di lokasi sepanjang sungai proyek Banjir Kanal Barat (BKB). Tapi jika tetap beroperasi di Sungai Ciliwung, pilihannya harus menambah rute dari Dukuh Atas hingga Manggarai-Karet. ''Sebab disitu kan kawasan pada penduduk, dan mereka pasti akan memanfaatkan transportasi ini untuk aktivitas sehari-hari atau sekadar liburan. Kalau rute sekarang susah dari permukiman dan sulit dijangkau,'' katanya.

Kepala UPT Pelabuhan dan Penyeberangan Dishub, Muhammad Zaky, mengatakan Dishub hanya mengeluarkan biaya premium sebanyak 20 liter. Jadi perhitungannya 20 liter dikalikan jumlah rate lalu dikalikan lagi Rp 4.500. ''Itu anggaran yang kami sediakan,'' katanya. Faktanya, jumlah rate dari waktu ke waktu terus menurun.

Namun Dishub DKI tampaknya tetap ngontot untuk meneruskan transportasi sungai ini meski mengurangi armada dari dua menjadi satu unit. Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI, Nurachman, satu KM akan menjalani perbaikan di dok (galangan kapal) Marina Ancol, yakni KM Kerapu VI. Usai perbaikan selama sepekan, KM ini akan kembali beroperasi. Sedang satu KM lain yaitu KM Kerapu III akan dikembalikan ke Dermaga Muara Angke, untuk menambah armada tujuan Muara Angke Jakut-Kepulauan Seribu.

''Satu kapal akan masuk dock (galangan kapal) karena sudah memasuki masa perbaikan. Sedang satu kapal digunakan untuk menambah armada antara Muara Angke Jakarta Utara-Kepulauan Seribu,'' ujar Nurachman. Dishub memastikan pada Januari 2008, Dermaga Muara Angke sudah mulai dioperasikan. zak-republika

Read More...

Sunday, November 18, 2007

Tidak dibutuhkan?

Debit air Kali Ciliwung telah meningkat pada musim penghujan. Namun 2 unit kapal waterway tetap saja menganggur.
Selain karena sampah yang menumpuk, juga karena sepinya penumpang, sehingga 2 kapal itu teronggok begitu saja.
Pantauan detikcom, Minggu (18/11/2007), di Dermaga Halimun, Jl Sultan Agung, Jakarta Pusat, 2 mesin tempel pada masing-masing kapal malah didongakkan ke atas.

Sementara sampah rumah tangga menyumbat beberapa tiang-tiang pancang dermaga, di sela-sela kapal dan buritan kapal tempat mesin.
Tidak terlihat petugas waterway. Wisata angkutan air yang diluncurkan 6 Juni 2007 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, pun kosong melompong. Terik matahari memanggang 2 kapal itu.

Sejumlah warga yang melintas tampak penasaran dan melongok. "Nggak tahu yang bikin logikanya gimana, kalinya coklat, banyak sampah, nggak ada gengsi-gengsinya naik beginian," ujar Wendri (34) warga Depok, Jawa Barat.
"Seharusnya kalinya dibenerin dulu, paling nggak ya jangan coklat, nggak penuh sampah, baru enak buat jalan-jalan," usul Wendri yang mengaku tertarik dengan tulisan 'Dermaga Halimun' sehingga menyempatkan diri melongok 2 kapal tersebut.

Sedangkan seorang pemulung bernama Sudar (55) memberitahu 2 kapal tersebut memang belum beroperasi.
"Kalau saya tahunya malah supaya bisa jalan harus bayar beberapa kursi. Kalau hanya satu dua kursi nggak mau jalan. Minimal 10 orang baru mau jalan. Itu yang saya denger dari penumpang yang ngeluh," katanya.

"Itu pemerintah cuma buang-buang duit. Ya dibersihin aja dulu kalinya," cetus Sudar yang mengaku sudah 20 tahun memungut sampah plastik di lokasi tersebut sebagai pekerjaan sehari-hari. ( sss / ana )

Read More...

Tuesday, August 14, 2007

Sampah dan tinggi air jadi kendala

Mengarungi sungai di Jakarta dengan kapal bermotor waterway ternyata tidak selalu dapat dinikmati pada saat weekend. Kalau hari libur nasional jatuh pada hari Sabtu atau Minggu, waterway juga ikut libur.

"Waktu Sabtu 11 Agustus lalu itu waterway nggak beroperasi karena hari libur Isra Miraj. Hari Minggu sudah jalan lagi," kata Kepala Dinas Pehubungan Pemprov DKI Jakarta Nurachman usai rapat kenaikan tarif busway dengan DPRD DKI, di Gedung DPRD DKI, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (14/8/2007).

Mengenai kendala yang dihadapi dalam pengoperasian waterway, lanjut Nurachman, masih sama seperti dulu.
"Kendalanya itu ketinggian air dan sampah. Tapi operasionalnya Insya Allah jalan terus," janjinya.

Waterway meliputi Kali Ciliwung dengan rute Halimun - Dukuh Atas - Karet. Kapal yang berdaya tampung 28 orang itu beroperasi pada Sabtu dan Minggu, pukul 07.00-09.00 dan 16.00-18.00.

Read More...

Friday, August 10, 2007

Tergantung debit air

Menanti Datangnya Air di Waterway
Irwan Nugroho - detikcom

Jakarta - Busway dan kendaraan umum lainnya tampak sibuk melaju di Jl Sultan Agung dan Jl Latuharhari, Jakarta. Sesekali kereta api melintas menambah hiruk pikuk wajah ibukota.

Namun lain halnya dengan 2 waterway yang tertambat di Dermaga Halimun di Jl Sultan Agung, Jakarta Selatan. Dua kapal motor bertuliskan 'Kerapu III' dan 'Kerapu IV' itu teronggok diam.

Pekan lalu, Sabtu 4 Agustus dan Minggu 5 Agustus 2007, waterway sempat tidak beroperasi. Pada Sabtu 4 Agustus, tidak ada penumpang yang berminat menggunakan waterway.

"Minggunya (5 Agustus) banyak penumpangnya, tapi airnya tidak cukup," kata petugas jaga waterway, Poniman (43) kepada detikcom, Jumat (10/8/2007).

Akhirnya penumpung pun urung naik kapal yang menempuh rute Halimun-Karet itu.

Menurut dia, operasional waterway tergantung pada debit aliran air. Dia pun mengkhawatirkan datangnya musim kemarau.

"Kalau dangkal, perahu tidak bisa jalan," kata Poniman.

Pengoperasian waterway, kata Poniman, diawali dengan pembukaan pintu air Manggarai. Sementara pintu air Pejompongan ditutup untuk menambah ketinggian air.

"Setelah air dirasa cukup, tingginya sekitar 1 meter, baru kapal bisa dijalankan," jelasnya.

Itu sebabnya, dia belum bisa memastikan apakah besok waterway sudah bisa dioperasikan atau tidak. "Ya nunggu airnya, Mas," kata Poniman.

Selama 2 hari tidak beroperasi pada 4-5 Agustus, pengelola pun tidak mempermasalahkan kerugian waterway.

"Kita nggak menghitung untung rugi. Ini kan tahapnya baru penataan, masih percobaan," jelas Poniman.

Waterway memang hanya beroperasi pada hari Sabtu dan Minggu saja. Dimulai pukul 07.00 WIB hingga 10.00 WIB. Sedangkan sore pada pukul 15.00 WIB hingga 18.00 WIB.

Keruk Kali

Bakal gubernur baru DKI, Fauzi Bowo juga menjadi tumpuan harapan Poniman atas keberadaan waterway.

"Mungkin jalurnya dulu atau kalinya. Barangkali rutenya akan diperpanjang hingga Manggarai. Atau kalinya dikeruk dan sampah-sampahnya diberesi," kata Poniman.

Pantauan detikcom, air kali banjir kanal barat (BKB) tampak dangkal. Sementara berbagai macam sampah mengapung.

Di akhir pekan, dua waterway yang bagian bawahnya nyaris menyentuh dasar sungai itu menanti air mengalir membawanya ke Karet. (fiq/sss)

Read More...